Tropenbos International Indonesia merupakan konsultan yang diminta PT RAPP untuk melaksanakan kegiatan penilaian penuh terhadap Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) di kawasan rencana kerja PT RAPP di Kawasan Semenanjung Kampar, setelah sebelumnya rapid assessment dan konsultasi publik dilakukan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh 54 orang peneliti dari lima universitas terkemuka di Indonesia dan dua lembaga penelitian pemerintah.

Konsultasi Publik pada 6 Mei 2010 di Bogor menuai banyak pertanyaan dan kritik, mulai dari polemik kesesuaian instrumen HCVF untuk hutan tanaman, kejelasan rujukan tata kelola air untuk Semenanjung Kampar, serta rekomendasi usaha masyarakat yang tidak sesuai dengan potensi tempatan.

Dari sisi masyarakat, M. Yusuf -warga Desa Teluk Meranti-Riau yang hadir dalam konsultasi publik Tropenbos ini- mengangkat 3 hal yang dinilainya tidak sesuai dengan kondisi setempat: isi laporan yang menyatakan budaya masyarakat Kampar yang cenderung ‘malas’, absennya NKT 6 karena laporan menyebutkan sebagaian besar masyarakat bukanlah masyarakat tempatan melainkan pendatang, serta pernyataan bahwa lingkungan gambut dulunya tidak ada yang melirik dan tertarik karena lokasi ini seperti tempat setan buang anak (pernyataan ketua tim peneliti saat pembukaan konsultasi ini).

Loading more stuff…

Hmm…it looks like things are taking a while to load. Try again?

Loading videos…