Lokasi proyek yang selesai di tahun 2011 ini berada di kawasan pemukiman yang cukup padat. Salah satu bentuk kepadatan visual yang secara fisik terlihat adalah jalan yang hanya selebar 3 meter, ditambah badan bangunan, yang sebagian dibangun dekat dengan badan jalan.

Bangunan benar terasa sebagai sebuah ‘street wall’.

Di sisi lain, ada kebutuhan klien akan hunian dengan anggaran yang terbatas (saat itu proyek ini harus dapat diselesaikan dengan biaya Rp. 2,5 juta/m2), selain juga adanya 'kekhawatiran' dari klien yang akan ‘terkungkung’ tinggal di kawasan yang demikian padat.

Dengan konteks yang ada, tantangan proyek ini bukan hanya menjawab tantangan kebutuhan privat sang pemilik hunian kelak, tapi juga bagaimana memposisikan arsitektur rumah tinggal yang bukan hanya merupakan sebuah solusi privat namun juga memberikan kontribusi bagi konteks (lingkungan dan sosialnya).

Rumah berbagi adalah sebuah solusi sederhana, yang dirancang dengan cara : selain ketat menjaga proporsi bangunan, secara ‘kreatif’ mendorong pagar lebih kedalam, dan ‘menyumbang’ lahan hijau (taman) ke area publik - menjadikan taman sebagai ‘pagar’ hidup. Taman yang didorong kedepan juga semacam kontribusi sosial yang bisa dilakukan oleh bangunan privat, yang dampaknya tidak kecil.
Dalam kasus ini, koridor jalan secara visual menjadi ‘lebih lebar’. Jalan berubah dari 'street wall experience' menjadi 'street garden experience'.

Taman kecil ini juga ‘sedikit’ mengubah wajah koridor jalan dan memberi warna ‘baru’ aktivitas yang ada di dalamnya. Jalan lingkungan bukan semata milik kendaraan yang intens lalu lalang, tapi juga kembali menjadi ‘ruang publik’ yang harusnya dikuasai warga kota. Setiap sore terlihat, anak-anak bersepeda yang ‘mampir’ sejenak. Atau akan dijumpai pengasuh dengan balita yang berkumpul di titik ini.

Bahkan di awal-awal proyek ini selesai, warga sekitar banyak yang ber-selfie ria di dengan latar taman Rumah Berbagi ini. Klien pemilik rumah tak lagi kesulitan untuk membangun identitas sebagai prasayarat terjadinya relasi sosial.

Arsitektur menjadi ‘pintu masuk’ terjadinya kemungkinan beragam peristiwa sosial positif antara individu dengan konteksnya.

Loading more stuff…

Hmm…it looks like things are taking a while to load. Try again?

Loading videos…